Romansia

Oleh Aidil Khalid

DIA malah merasa seperti telah tercabut siuman!

Makanya, di loteng sepi tempat biasa eksperimen demi eksperimennya dijalankan itu, dia telah kalah dengan emosi. Dia lalu melalak melolong seorang diri, melompat-lompat bagaikan kera dalam sangkar yang terkena sergah oleh tuannya yang garang.

“Uuuuu… lululu… lelele.…,” sambil terkangkang-kangkang dia menggayakan mimik beruk chimpanze, dengan suara yang nyaring. “Walala, walala, walolo, walolo….,” dia menepuk-nepuk buntutnya, sambil menggoyang-goyangkannya. Kedengaran bunyi bedebab, bedebub, krek, krek, apabila kakinya menghentam-hentam lantai papan usang loteng tersebut. Baca lagi »

Dua kelahiran satu pengebumian

Berita itu seperti dibawa sepasang sayap lebar daripada api. Ia membakar semua bunga dan rerumputan di halaman. Ia menghanguskan sukmanya. Ia meratah ganas sekelumit harapan untuk mati tua di sisi anak lelakinya itu. Ia meninggalkan puing yang terapung begitu lama dalam kolong hidup menunggalnya. Dinding rumah menjadi pudar. Pintu pagar memperaga warna karatnya. Awan dan langit tidak kelihatan, terlindung jerebu pekat yang mengewap dari dalam kalbunya sendiri.

Berhari-hari rasa resah dan murung itu dibawa meringkuk dalam dirinya di atas lantai keras. Dia menunggu ketibaan musim yang dapat menenang dan menyabarkannya. Musim bersama angin yang dapat menolak segala warna kelabu-murung-duka yang mendekam dalam kalbu dan sukma, di dinding rumah, di pintu pagar, pada bunga dan rerumputan di halaman.

Baca lagi »